Pilihan ini akan mengatur ulang halaman depan untuk situs ini. Mengembalikan setiap widget atau kategori yang tertutup .

Reset

Kapankah Malam Lailatul Qodar?

lailatul-qodar1Kepastian Malam Lailatul Qodar

assalamualaikum, ustadz bagaimana dengan pengertian alqur’an turun pada malam lailatul qodar sementara di dalam sejarah alqur’an pertama kali turun pada tgl 17 romadhon. sukron atas jawabanya. (dari Tata)

Di negeri kita, biasa masyarakat Indonesia memperingati malam nuzulul quran, pada malam ketujuh belas tiap bulan Ramadhan. Sebenarnya, benarkah Al Quran diturunkan pada malam ketujuh belas Ramadhan?

Untuk mengetahui ini, biarlah Al Quran sendiri yang menceritakan kapan Al Quran diturunkan.

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada Lailatul Qadar (malam kemuliaan).” (QS. Al Qadr (97): 1)

Jadi, ayat yang sharih (jelas) ini menunjukkan bahwa Al Quran diturunkan pada Lailatul Qadar. Kapankah Lailatul Qadr itu?

Dia ada pada bulan Ramadhan, namun kepastian harinya hanya Allah Ta’ala yang tahu. Sedangkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hanya memberikan petunjuk dan perintah untuk mengintainya.

Secara spesifik, Lailatul Qadar ada pada sepuluh malam terakhir  atau tujuh  malam terakhir. Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

فَمَنْ كَانَ مُتَحَرِّيهَا فَلْيَتَحَرَّهَا مِنْ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ

“Maka, barangsiapa yang ingin mendapatkan Lailatul Qadar, maka carilah pada sepuluh malam terakhir.” (HR. Bukhari, Kitab Al Jum’ah Bab Fadhli Man Ta’arra minal Laili fashalla, Juz. 4, Hal. 332, No hadits. 1088. Al Maktabah Asy Syamilah)

Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

فَمَنْ كَانَ مُتَحَرِّيهَا فَلْيَتَحَرَّهَا فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ

“Maka, barangsiapa yang ingin mendapatkan Lailatul Qadar, maka carilah pada tujuh malam terakhir.” (HR. Bukhari, Kitab Ash Shaum Bab Iltimas Al Lailatal Qadri fi Sab’il Awakhir, Juz. 7, Hal. 143, No hadits. 1876. Al Maktabah Asy Syamilah)

Bagaimanakah maksud tujuh malam terakhir?  Imam Ibnu Hajar Rahimahullah menjelaskan dalam Fathul Bari:

وَقِيلَ الْمُرَادُ بِهِ السَّبْع الَّتِي أَوَّلهَا لَيْلَة الثَّانِي وَالْعِشْرِينَ وَآخِرهَا لَيْلَة الثَّامِن وَالْعِشْرِينَ ، فَعَلَى الْأَوَّل لَا تَدْخُلُ لَيْلَةُ إِحْدَى وَعِشْرِينَ وَلَا ثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ ، وَعَلَى الثَّانِي تَدْخُلُ الثَّانِيَةُ فَقَطْ وَلَا تَدْخُلُ لَيْلَة التَّاسِع وَالْعِشْرِينَ

“Dikatakan, bahwa yang dimaksud dari tujuh adalah jika malam pertamanya adalah malam ke 22 dan malam akhirnya adalah 28, maka kemungkinan pertama malam yang ke 21 dan 30 tidaklah termasuk, dan kemungkinan kedua, hanya yang kedua yang termasuk, dan malam  ke 29 tidak termasuk.” (Fathul Bari Juz. 6 Hal. 299 No. 1876. Al Maktabah Asy Syamilah)

Makna  ini diperkuat lagi oleh hadits yang menunjukkan alasan kenapa  Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan mengintai tujuh hari terakhir.

Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ يَعْنِي لَيْلَةَ الْقَدْرِ فَإِنْ ضَعُفَ أَحَدُكُمْ أَوْ عَجَزَ فَلَا يُغْلَبَنَّ عَلَى السَّبْعِ الْبَوَاقِي

Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Carilah dia pada sepuluh malam terakhir (maksudnya Lailatul Qadar) jika kalian merasa lemah atau tidak mampu, maka jangan sampai dikalahkan oleh tujuh hari sisanya.” (HR. Muslim, Kitab Ash Shiyam Bab Fadhli Lailatil Qadri wal Hatsi ‘ Ala Thalabiha ….,  Juz. 6, Hal. 72, No hadits. 1989. Al Maktabah Asy  Syamilah)

Lebih tepatnya lagi, Lailatul Qadar itu datangnya pada malam ganjil sebagaimana hadits dari Abu Salamah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

فَإِنِّي أُرِيتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ وَإِنِّي نُسِّيتُهَا وَإِنَّهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فِي وِتْرٍ

“Sesungguhnya Aku diperlihatkan Lailatul Qadar, dan aku telah dilupakannya, dan saat itu pada sepuluh malam terakhir, pada malam ganjil.” (HR. Bukhari, Kitab Al Adzan  Bab As Sujud ‘Alal Anfi ws Sujud ‘Alat Thin, Juz. 3, Hal. 300, No hadits. 771. Al Maktabah Asy Syamilah)

Dalam riwayat lain:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنْ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Carilah oleh kalian Lailatul Qadar pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir Ramadhan.” (HR. Bukhari, Kitab Shalatut Tarawih Bab Taharri Lailatil Qadri fil Witri minal ‘Asyril Awakhir, Juz. 7, Hal. 145, No hadits. 1878. Al Maktabah Asy Syamilah)

Ada dua pelajaran dari dua hadits yang mulia ini. Pertama, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sendiri tidak tahu persis kapan datangnya Lailatu Qadar karena dia lupa. Kedua, datangnya Lailatul Qadar adalah pada malam ganjil di sepuluh malam terakhir.

Lalu, Bagaimana dengan malam ke 25, 27 dan 29?

Imam Bukhari meriwayatkan, dari ‘Ubadah bin Ash Shamit Radhiallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

فَالْتَمِسُوهَا فِي التَّاسِعَةِ وَالسَّابِعَةِ وَالْخَامِسَةِ

“Maka carilah Lailatul Qadar pada malam ke sembilan, tujuh, dan lima (pada sepuluh malam terakhir, pen).” (HR. Bukhari, Kitab Shalatut Tarawih BabRaf’i Ma’rifati Lailatil Qadr Litalahin Nas,  Juz. 7, Hal. 151, No hadits. 1883. Al Maktabah Asy Syamilah)

Berkata seorang sahabat mulia, Ubai bin Ka’ab Radhiallahu ‘Anhu:

وَاللَّهِ إِنِّي لَأَعْلَمُ أَيُّ لَيْلَةٍ هِيَ هِيَ اللَّيْلَةُ الَّتِي أَمَرَنَا بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقِيَامِهَا هِيَ لَيْلَةُ صَبِيحَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ وَأَمَارَتُهَا أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فِي صَبِيحَةِ يَوْمِهَا بَيْضَاءَ لَا شُعَاعَ لَهَا

“Demi Allah, seseungguhnya aku benar-benar mengetahui malam yang manakah itu, itu adalah malam yang pada saat itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan kami untuk shalat malam, yaitu malam yang sangat cerah pada malam ke 27, saat itu tanda-tandanya hingga terbitnya matahari, pada pagi harinya putih terang benderang, tidak ada panas.” (HR. Muslim, Kitab Shalatul Musafirin wa Qashruha Bab At Targhib fi Qiyami Ramadhan wa Huwa at Tarawih, Juz. 4, Hal. 150, No hadits.  1272. Al Maktabah Asy Syamilah)

Inilah riwayat yang dijadikan pegangan oleh jumhur ulama, bahwa kemungkinan besar Lailatul Qadar –saat Al Quran diturunkan- adalah pada malam ke 27. Namun demikian, secara pasti kita hanya bisa mengatakan Wallahu A’lam bish Shawab.

Lalu, Bagaimana Dengan tanggal 17 Ramadhan?

Allah Ta’ala mengisyaratkan, bahwa Al Quran diturunkan pada tanggal 17 Ramadhan, sebagaimana ayat berikut:

وَاعْلَمُوا أَنَّمَا غَنِمْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَأَنَّ لِلَّهِ خُمُسَهُ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ إِنْ كُنْتُمْ آَمَنْتُمْ بِاللَّهِ وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَى عَبْدِنَا يَوْمَ الْفُرْقَانِ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Ketahuilah, Sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, Maka Sesungguhnya seperlima untuk Allah, rasul, Kerabat rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, Yaitu di hari bertemunya dua pasukan. dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al Anfal (8): 41)

Sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa maksud: jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan adalah Al Quran. Dan, memang diberbagai ayat lainnya, kalimat: wa maa anzalna ‘ala abdina (apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami) atau yang semisalnya , adalah bermakna Al Quran, seperti dalam Al Baqarah ayat 23.  Jadi, Al Quran diturunkan pada hari Al Furqan, hari bertemunya dua pasukan (yakni perang Badar, sebagaimana disebutkan oleh para salaf), tanggal 17 Ramadhan tahun 2 Hijriyah.

Imam Ibnu Jarir meriwayatkan demikian:

قال الحسن بن علي بن أبي طالب رضي الله عنه: كانت ليلة “الفرقان يوم التقى الجمعان”، لسبع عشرة من شهر رمضان.

“Berkata Al Hasan bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu: Adalah ‘malam Al Furqan hari di mana bertemuanya dua pasukan’ terjadi pada 17 Ramadhan.” (Jami’ Al Bayan, 13/562. Muasasah Ar Risalah)

Maka, dari keterangan ini Al Quran diturunkan awal kali pada 17 Ramadhan. Namun, ada beberapa kemungkinan.

Pertama. Sepintas pendapat ini agak musykil (bermasalah), sebab ayat pertama yang turun, surat Al ‘Alaq ayat 1-5, di turunkan di gua Hira’, pada masa tenang dan sama sekali tidak ada peperangan, bukan di padang Badar ketika perang. Ayat tersebut turun sekaligus menandakan awalnya Beliau diangkat menjadi Rasulullah, sedangkan perang Badar terjadi tahun ke 2  setelah hijrah ke Madinah , alias 15 tahun setelah kenabiannya.  Lebih tepat dikatakan, Al Quran memang turun saat 17 Ramadhan perang Badar, tetapi bukan yang pertama kali.

Kedua. Kemungkinan lain, memang benar bahwa Al Quran pertama kali diturunkan di gua Hira  adalah tanggal 17 Ramadhan, dan benar pula perang Badar terjadi 17 Ramadhan  tetapi di tahun yang lain. Al Quran di turunkan ditahun petama kenabiannya, Perang badar terjadi tahun ke 2 Hijriyah alias 15 tahun setelah kenabiannya, dan keduanya sama-sama terjadi pada 17 Ramadhan. Jadi makna: jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, adalah jika kamu beriman kepada Allah dan kepada Al Quran yang dahulu Kami turunkan pertama kali pada waktu yang sama dengan hari furqan sekarang. Nah, Ini nampaknya lebih mendekati kebenaran. Inilah yang dianut oleh sebagian ulama.

Ketiga.  Jika benar turunnya tanggal 17 Ramadhan, bagaimana dengan turunnya Al Quran pada malam Lailatul Qadar ?    Maka untuk mentaufiq (kompromi) antara dua keterangan ini (Lailatul Qadar dan 17 Ramadhan), para ulama mengatakan Al Quran diturunkan dua kali tahap. Tahap pertama diturunkan dari Lauh Mahfuzh ke Baitul Izzah  di langit dunia pada Lailatul Qadar secara langsung, tahap selanjutnya,  diturunkan dari langit dunia ke kehidupan manusia secara bertahap selama hampir 23 tahun, yang diawali pada 17 Ramadhan di Gua Hira. Inilah pendapat Ibnu Abbas.  Dengan demikian antara dua ayat ini tidak ada pertentangan sama sekali, justru saling mendukung. Inilah pendapat yang benar.

Berkata Imam Ibnu Jarir tentang surat Al Qadar ayat 1:

إنا أنزلنا هذا القرآن جملة واحدة إلى السماء الدنيا في ليلة القَدْر

“Sesungguhnya Kami menurunkan Al Quran ini secara satu kesatuan menuju langit dunia pada Lailatul Qadar.”

Beliau mengutip dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma:

نزل القرآن كله مرة واحدة في ليلة القدر في رمضان إلى السماء الدنيا، فكان الله إذا أراد أن يحدث في الأرض شيئًا أنزله منه حتى جمعه.

“Seluruh Al Quran diturunkan  sekali turun pada  Lailatul Qadar pada bulan Ramadhan menuju langit dunia, jika Allah hendak ‘berbicara’ sesuatu di bumi Dia menurunkannya sampai semuanya (lengkap).”

Beliau juga mengatakan;

نزل القرآن في ليلة من السماء العليا إلى السماء الدنيا جملة واحدة، ثم فُرِّق في السنين، وتلا ابن عباس هذه الآية:( فَلا أُقْسِمُ بِمَوَاقِعِ النُّجُومِ ) قال: نزل متفرّقا.

“Allah menurunkan Al Quran pada malam (Al Qadar) dari langit paling tinggi menuju langit dunia dalam satu kesatuan, lalu membaginya dalam waktu bertahun-tahun.” Lalu, Ibnu Abbas membaca ayat:   “Maka aku bersumpah dengan masa turunnya bagian-bagian Al-Quran.” Artinya: Al Quran turun secara terbagi-bagi.

Asy Sya’bi Rahiallahu ‘Anhu  mengatakan:

نزل أول القرآن في ليلة القدر.

“Allah menurunkan Al Quran pertama kali pada Lailatul Qadar.”

Dari Asy Sya’bi juga:

بلغنا أن القرآن نزل جملة واحدة إلى السماء الدنيا

“Telah sampai kepada kami bahwa Al Quran diturunkan dalam satu kesatuan ke langit dunia.” (lihat semua dalam   Jami’ Al Bayan, 24/531-532)

Jadi, tahap pertama Al Quran di turunkan dua Tahap. pertama diturunkan dari Lauh Mahfuzh ke Baitul Izzah  di langit dunia pada Lailatul Qadar secara langsung, tahap selanjutnya,  diturunkan dari langit dunia ke kehidupan manusia secara bertahap selama hampir 23 tahun, yang diawali pada 17 Ramadhan di Gua Hira. Sehingga tak ada pertentangan antara dua informasi dari Al Quran sendiri, tentang turunnya pada Lailatul Qadr dan 17 Ramadhan.

Wallahu A’lam

oleh ust  Farid Numan Hasil dengan judul asli Tentang Nuzulul Quran

Kabarmuslim.com Portal Berita Umat Muslim

    Kabarmuslim.com Portal Berita Umat Muslim
  • kabarmuslim.comLailatul kodar
  • kabarmuslim.comsejarah alquran diturunkan
  • kabarmuslim.comkapan malam lailatur qadar di turunkan
  • kabarmuslim.combenarkah al-quran diturunkan tanggal 17 ramadhan
  • kabarmuslim.comtangal malam lailatul kodar
  • kabarmuslim.commakna nama lailatul laily
  • kabarmuslim.comlailatul qodar berapa kali turun
  • kabarmuslim.comkitab ash shaum - lailatul qadar
  • kabarmuslim.comkisah lailatu kodar
  • kabarmuslim.comkapnkah turunnya lailatul qodar itu menurut sebagian Ulama

Tinggalkan Komentar