Pilihan ini akan mengatur ulang halaman depan untuk situs ini. Mengembalikan setiap widget atau kategori yang tertutup .

Reset

Islam Liberal 101

101 1
Pengantar

oleh :

Ahmad Sarwat

Bismillahirrahmanirrahim,
wasshalatu wassalamu ‘ala Muhammadin wa ‘ala alihi washabihi ajmain.
Wa ba’du.

Islam Liberal memang sebuah fenomena menarik untuk diamati sekaligus
ditangani. Perlu diamati, karena gerakannya lumayan dahsyat mengagetkan
banyak kalangan umat Islam, mulai dari ustadz, kiyai, santri hingga para tukang
becak. Penyebaran paham seperti itu nyaris mustahil bisa berjalan, kalau tidak
ada kucuran dana yang tak terbatas jumlahnya.

Islam Liber perlu ditangani, karena pemikiran para aktifisnya sering
membuat geram umat Islam  yang merasa agamanya dihina, diejek dan
dicemooh. Sayangnya yang melakukan penghinaan itu bukan siapa-siapa, tetapi
justru para mantan santri yang dulunya shalih, sayangnya akibat cuci otak dan
kepentingan perut, mereka lantas dengan ikhlas menjadi agen dan penyambung
lidah para orientalis untuk mengobok-obok isi perut ajaran Islam.

Sayangnya, rasa marah dan geram sebagai reaksi murni dari kecintaan
umat Islam terhadap agamanya, seringkali kurang efektif, bahkan terkesan
hanya  sekedar luapan emosi yang sering kali berujung menjadi tindak anarki.
Meski dalam beberapa kasus, tindak anarkis ini sering agak dibesar-besarkan
demi kepentingan tertentu.

Sesungguhnya umat Islam butuh sebuah buku yang menjadi guide, dimana
fungsinya memandu mereka untuk dapat menangkis hujjah para aktifis liberalis
ini secara elegan, namun juga efektif, tanpa harus terjebak dengan anarkisme.

Dan diharapkan oleh penulisnya, buku ini menjadi salah satu amunisi
tersebut. Umat Islam perlu diberikan bekalan untuk bertahan, atau kalau perlu
melakukan serangan balasan, dalam bentuk hujjah yang bersifat ilmiyah dan
berakar pada literatur yang shahih.
2
Walau pun tentu kita yakin bahwa sebuah buku tentu tidak bisa begitu saja
menyelesaikan masalah. Namun setidaknya buku ini sedikit bisa lebih ikut
membantu dalam menjawab tasykik (peragu-raguan) yang rutin dilancarkan para
aktifis liberalis.

Cara Elegan Menghadapi Liberalisme

Untuk menghadapi arus dahsyat pemikiran liberalisme, umat Islam butuh
cara-cara yang lebih elegan, lebih dialogis dan lebih ilmiyah.

Cara elegan yang saya maksud adalah dengan mengembangkan sifat
prosefionalisme dalam bekerja dan pembagian tugas. Tidak perlu semua umat
Islam menghabiskan tenaga untuk mengkonter gerakan liberal ini, cukup
sebagian saja tetapi mereka yang memang ahli dan menguasai medan, serta
punya jam terbang yang tinggi.  Proyek ini terus terang perlu melibatkan ahli
agama atau ilmuwan sebagai bamper terdepan.

Tetapi barisan intelektual saja tentu belum cukup. Kita butuh media untuk
menyebarkan konten, baik cetak maupun elektronik. Kita butuh penerbit yang
profesional, mandiri, serta sehat secara keuangan. Mungkin juga dibantu dengan
majalah untuk menjangkau pembaca yang lebih luas dan rutin.

Tapi buku dan majalah saja tidak cukup, kita juga butuh media yang lebih
luas dan variatif, misalnya radio dan televisi. Kalau kalangan aktifis liberalisme
punya radio yang digarap serius,  sayangnya umat Islam secara umum malah
tidak punya.  Maksudnya, radio yang serius dan dikelola secara profesional,
sehat secara keuangan dan mampu sejajar dengan radio bergengsi lainnya.

Sedikit lebih murah dari radio adalah situs internet. Kalau yang ini kita
punya cukup banyak, tapi masalah -lagi-lagi- kurang tergarap secara serius dan
umumnya juga kurang sehat dari segi finansial. Makanya meski awalnya kita
gembira banyak situs Islam, tapi yang mampu bertahan, atau sekedar bisa
survive, bisa dihitung dengan jari sebelah tangan. Selebihnya, sudah mati suri
atau malah sudah almarhum. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.

Jadi masalah yang paling besar di kalangan kita ini bukan tidak mampu
membuat konter, tetapi yang jadi masalah adalah kita selalu bekerja serabutan,
tidak pernah fokus pada satu titik hingga sampai level profesional.

Budaya kerja dakwah kita adalah budaya kerja kuli pelabuhan. Pokoknya
apa saja, yang penting sibuk dan dapat uang. Budaya kerja dakwah kita adalah
budaya kebetulan dan aji mumpung. Mumpung lagi ada kesempatan, maka   3
dibuatlah program. Dan kalau lagi tidak ada kesempatan, berarti mengerjakan
hal-hal yang lain.

Ibarat petani musiman, masuk musim penghujan, ramai-ramai bertani.
Giliran tidak ada hujan, mereka masuk ke kota menjual nasib, kerja serabutan
apa saja sambil menunggu datangnya musim hujan lagi.

Hal ini sangat berbeda dengan metode musuh-musuh Islam dalam bekerja
menghancurkan umat Islam. Mereka bekerja profesional, kemampuan
intelektual mereka selalu diasah, potensi diri mereka selalu dikembangkan, serta
ide-ide mereka selalu didengar oleh seniornya.

Jadi masalahnya, menurut hemat saya, bukan semata-mata mereka ditaburi
dengan dolar. Itu benar, tapi bukan semata-mata karena dolar mereka jadi besar.
Tetapi karena mereka ‘’serius” dalam bekerja. Mereka cukup fokus dan telaten
dalam menjalani profesi mereka sebagai penghujat Islam.

Sementara kita mengerjakan semua itu sambil lalu, sambil bisnis, cari uang
tambahan, atau saya istilahkan dengan: iseng-iseng berhadiah.

Kita punya banyak partai Islam, ditambah lusinan ormas Islam yang juga
besar, tapi sayangnya  tak  satu pun yang memfokuskan diri pada satu isu
tertentu.  Sederhananya,  tidak ada yang bisa membuat stasiun pemancar radio
yang sehat dari segi finansial, apalagi stasiun televisi.

Jadi begitulah, kita harus sadar bahwa kondisi ”kesehatan” kita berada pada
titik yang paling lemah. Baru sekedar diserang virus liberlisme begitu saja, kita
sudah menggelapar-gelepar tidak berdaya. Belum lagi nanti datang beragam
variannya, bisa-bisa kita celaka.

Jawaban ini bukan untuk menggambarkan sikap pesimis kita, tetapi
dimaksudnya agar kita segera sadar diri, bahwa kalau kita mau melawan
liberalisme, pada dasarnya kita sangat mampu. Hanya, karena kita kurang serius
menggarapnya, maka banyak sekali potensi kita yang terbuang percuma. Seolah-
olah liberalisme itu musuh yang tidak terkalahkan. Padahal liberalisme itu
sangat lemah, mudah sekali digusur, seandainya kita bekerja lebih fokus,
profesional dan jelas pembagian tugasnya.

Di tengah keprihatinan itu, lahirlah buku yang di tangan Anda ini. Ya, ini
adalah buku yang menarik, versi pdf-nya sudah saya baca langsung habis. Dan
komentar saya singkat : ini buku yang hebat.
4
Yang menarik dari buku ini ada pada bagian modus operandi yang biasa
mereka pakai. Bagian itu rasanya cukup menarik, karena kita dikenalkan  -
setidaknya diingatkan kembali- tentang trik-trik licik yang jadi langganan para
aktifis liberalis. Seperti  trik  permainan istilah, tuduhan palsu, pembelokan
masalah, pemotongan ayat, lempar batu sembunyi tangan dan lainnya. Penulis
mengungkapkannya dengan dilengkapi dengan contoh-contoh nyata.

Bagian lain yang juga menarik adalah  pada  bagian “Comoohan Mereka”,
saya pikir bagian itu sangat seru, disana ada banyak fakta yang bisa diungkap
tentang cara-cara para aktifis liberal dalam  mencemooh saat berargumen,
khususnya kalau sudah agak kepepet.

Intinya buku ini menarik untuk dibaca, dan memang seharusnya bisa
menjadi Mata Kuliah Dasar Umum (MKDU) buat setiap mahasiswa Islam, para
aktifis dan kader, dan seluruh lapisan umat, termasuk jamaah majelis taklim baik
di perumahan atau di perkantoran.

Kalau pun ada masukan, barangkali tinggal masalah penggunaan sudut
pandang saja. Maksud saya, buku ini kalau dibaca oleh orang yang dasarnya
sudah anti terhadap pemikiran  liberalisme, mungkin akan menjadi suntikan
darah segar pemberi semangat yang bergelora, bahkan akan semakin memacu
adrenalin dalam melawan pemikiran mereka. Sebuah tambahan amunisi yang
memang amat dibutuhkan.

Tetapi buat orang yang belum paham atau malah rada nge-JIL, mungkin
sudah akan segera pasang kuda-kuda duluan, karena penulisnya membuka
pembicaraan tentang JIL dengan kerangka format bahwa mereka adalah
MUSUH, lewat sub judul : perang abadi. Penulisnya juga sudah
“memojokkan”mereka sebagai kaki tangan IBLIS.

Artinya, buku ini jelas akan langsung mendapatkan resistensi total dari
kalangan liberalis. Ibarat perang, dari garis start penulisnya sudah
menembakkan misil nuklir dan bumi hanguskan langsung tanpa ba bu.

Tetapi mungkin itu adalah sebuah gaya yang menjadi paten tiap orang. Dan
tentu saja hukumnya sah-sah saja. Sebab aktifis liberal pun melakukan hal yang
sama juga dalam membela pemikiran mereka. Ini mengingatkan saya pada buku
di masa lalu yang judulnya sudah dar der dor : Anatomi Budak Kufar. Masih
ingat kan?

Saya berharap ada sekuel dari buku ini, yang isinya menelanjangi motif-
motif yang melatar-belakangi ulah para aktifis liberalis itu, khususnya para   5
mantan ’santri’ kita, yang silau dengan gemerincing dolar. Umat Islam perlu
tahu kenapa sampai segitunya mereka rela menginjak-injak agamanya sendiri.

Bagian ini menarik untuk diungkap sebab rasanya masih jarang dibahas.
Misalnya, bagaimana mereka menerima hujan dolar dari para pembina mereka
di barat lewat berbagai foundation.

Dalam film kita sering disuguhkan  tentang bentuk kejahatan dari para
penjahat, tapi kadang kita kurang disuguhi latar belakang kenapa kok mereka
jadi orang jahat.

Dalam kesimpulan  saya, yang paling dominan dari latar belakang mereka
sampai senekat itu,  ternyata malah membuat miris, yaitu masalah ekonomi dan
urusan perut. Saya merasakan itu sejak masih kuliah di LIPIA dulu, karena
punya banyak teman yang saat itu masih  hanif, lugu, polos dan shalih, lantas
seringkali diikutkan dan dilibatkan oleh para aktifis liberal dalam berbagai
event. Bahkan salah satunya sekarang sudah jadi ‘kader inti’.

Awalnya motifasi mereka memang oportunis sekali, yaitu undangan itu
digelar di hotel mewah, diberi makan enak, pulangnya diberi uang saku, bahkan
hingga dijanjikan mendapat beasiswa, atau kuliah di Amerika dan sebagainya.
Dan buat teman-teman santri yang asalnya dari dusun nun jauh di balik gunung,
undangan seperti itu terlihat amat bergengsi dan amat menjanjikan.

Saya akan sangat berbahagia sekali kalau di sekuelnya nanti penulis bisa
menceritakan bagaimana  para santri yang  polos itu,  akhirnya  berubah wujud
menjadi  orang-orang yang  bermental  inlander,  sampai  tega-teganya menginjak
agama demi urusan perut,  dan disibukkan untuk rebutan kucuran dana luar
negeri serta menghamba demi kepentingan mereka.

Lucunya, ada juga yang bersuara hanya kalau dapat kucuran dana. Begitu
dana berhenti, kita tidak dengar lagi tuh mereka cuap-cuap. Dan kalau dananya
sudah habis, biasanya ada yang berangkat ke Amerika sana, bawa proposal ini
dan itu. Tidak lama, kita mendengar lagi ada cuap-cuap lagi. Biasanya, saya
sering berkomentar, Oo dananya sudah cair.

Terakhir, buat penulisnya saya ucapkan  mabruk alfa mabruk.  Jazahullah
khairal jaza ‘ala hadzal ihtimam wat-taqdir. Matta’anallahu bi ulumihi wa khidmatihi,
Amien.

Wassaalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Ahmad Sarwat

Kabarmuslim.com Portal Berita Umat Muslim

    Kabarmuslim.com Portal Berita Umat Muslim
  • kabarmuslim.comIslam Liberal 101
  • kabarmuslim.comislam liberal 101 pdf
  • kabarmuslim.compdf islam liberal 101
  • kabarmuslim.comresensi buku islam liberal 101
  • kabarmuslim.comresensi Islam Liberal 101
  • kabarmuslim.comislamliberal101
  • kabarmuslim.combuku islam liberal 101
  • kabarmuslim.comreaksi terhadap islam liberal
  • kabarmuslim.comJUAL ISLAM LIBERAL 101
  • kabarmuslim.comsinopsis buku islam liberal 101

Tinggalkan Komentar