Pilihan ini akan mengatur ulang halaman depan untuk situs ini. Mengembalikan setiap widget atau kategori yang tertutup .

Reset

Birokrat Unik, Apanya Yang Unik?

birokrat-unikBirokrat Unik, Apanya Yang Unik? - Cyber Sabili Ramah Tegas dan Diperhitungkan
Ditulis oleh Dwi Hardianto
Sabtu, 08 Januari 2011 14:27
Cyber Sabili-Senin 3 Januari 2011, bertempat di aula Paramadina, Pondok Indah, diadakan
launching buku karya Elza Peldi Taher berjudul Birokrat Unik, Soen’an Hadi Poernomo, terbitan
LKMI. Berbicara pada launching buku itu Rektor UIN, Komaruddin Hidayat, Arif Satria dan Yudi
Latif.

Buku ini juga di launching pada  4 Januari 2011 di Auditorium Mina Bahari 3 lantai 1
Kementerian Kelautan Perikanan dengan pembicara Sarwono Kusumaaatmadja, Jimly Asssidiq
dan Masdar F Mas’udi, dengan keynote speaker, Menteri Kelautan dan Perikanan, Fadel
Muhammad.

Apa yang menarik sehingga buku ini harus dilaunching di dua tempat? Buku ini  adalah
kumpulan  biografi dan kumpulan  artikel. Itu sebabnya, buku ini terbagi atas dua bagian, yaitu
sebuah biografi ringkas yang bercerita tentang rekam jejak seorang anak bangsa. Dalam hal ini
adalah rekam jejak seorang Dr. Soen’an Hadi Poernomo.

Dia adalah seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang saat buku ini ditulis menjabat sebagai
Kepala Pusat Data Statistik dan Informasi (Pusdatin) Kementerian Kelautan dan Perikanan
(KKP). Bagian kedua buku ini, tentu saja, berisi tentang artikel-artikel yang ditulis Soen’an Hadi
Poernomo dan dimuat di beberapa media, termasuk kumpulan surat pembaca di Majalah
Tempo.

Membaca buku ini sekilas pasti memunculkan pertanyaan. Birokrat Unik?. Apanya yang unik?
Apalagi bagi mereka yang mengenal Soen’an,  dalam kesehariannnya ia tak ada bedanya
dengan orang lain. Tak ada sesuatu yang aneh pada dirinya, perilaku, cara berpakaian dan
pergaulan sehari-hari sama seperti yang lain, sehingga amatlah wajar jika banyak yang
1 / 5Birokrat Unik, Apanya Yang Unik? - Cyber Sabili Ramah Tegas dan Diperhitungkan
Ditulis oleh Dwi Hardianto
Sabtu, 08 Januari 2011 14:27
bertanya, mengapa buku ini diberi judul birokrat unik?

Ada beberapa alasan mengapa buku ini disebut birokrat unik. Pertama, Soen’an adalah pejabat
yang sederhana, bahkan terlalu sederhana dibanding jabatannya. Ia dikenal luas sebagai orang
yang tegar  menjaga dedikasi dan integritas sebagai seorang birokrat.  Gratifikasi (pemberian),
bagi banyak birokrat mungkin sesuatu yang lumrah. Tapi, bagi Soen’an, gratifikasi itu harus
ditolak. ”Bagaimana dengan istri dan anak saya kalau saya menerima, mereka makan dari yang
tidak halal,” begitu kata Soen’an.

Tak heran, bila Soen’an sering melaporkan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bila
menerima gratifikasi. KPK pun memberi apresiasi atas laporan Soen’an. Atas laporan itu,
beberapa kali Soen’an mendapat ”surat penghargaan” dari KPK.Kemewahan dunia dan harta
benda tidak terlalu merisaukan Soen’an. Dalam menjalani keseharian, Soen’an tetap dengan
kesederhanaan dan kebersahajaan.

Dia tak pernah berlebih dan tak pula terlalu kekurangan. Soen’an mensyukuri apa yang
diperolehnya pada saat ini. Sekalipun, orang-orang sekitar, ”menyayangkan” karena Soen’an
bisa memperoleh lebih. Sekadar contoh, kendaraan dinas yang digunakan Soen’an, di mata
orang lain, mungkin sudah tidak pantas untuk jabatan setingkat eselon II. Toh, Soen’an tidak
mempersoalkan.

Kedua, sosok Soen’an yang semenjak muda hobi berorganisasi berlangsung hingga kini, dari
organisasi Masyarakat Perikanan Nusantaran, Ikatan Sarjana Perikanan Indonesia hingga
organisasi pecel lele digeluti. Hal ini menyebabkan sosok Soen’an dikenal secara luas di
masyarakat, terutama di masyarakat kelautan dan perikanan. Kiprahnya dalam meningkatkan
kelembagaan perikanan pun tidak sedikit.

Bersama organisasi perikanan lainnya, Soen’an yang juga seorang birokrat terus mensuarakan
pentingnya kelembagaan perikanan  untuk ditingkatkan. Bahkan, Soen’an berani mengkritisi
lembaganya apabila dianggap tidak berpihak pada nelayan dan pembudidaya ikan suatu waktu.
Keberadaan Soen’an seakan seperti ”lentera” dalam komunitas kelautan dan perikanan. Selalu
memberikan warna warni bagi dunia kelautan dan perikanan dimanapun dia berpijak.

Ketiga, bila pejabat umumnya sudah tak bergairah menulis, karena tersita waktunya oleh kerja
2 / 5Birokrat Unik, Apanya Yang Unik? - Cyber Sabili Ramah Tegas dan Diperhitungkan
Ditulis oleh Dwi Hardianto
Sabtu, 08 Januari 2011 14:27
kerja rutin, Soen’an Hadi Poernomo yang sejak muda menulis, termasuk penulis yang produktif.
Tulisan-tulisan dan artikel, terutama tentang kelautan dan perikanan, muncul di berbagai media
massa baik koran dan majalah. Tentu, ini memperlihatkan talenta Soen’an sebagai seorang
penulis kolom.

Bukan itu saja, esensi dari artikel yang ditulisnya bisa menggugah dan memberi gagasan segar
kepada para pembacanya. Sekali lagi, hal itu memperlihatkan kualitas keilmuan Soen’an yang
perlu pula disebarluaskan melalui buku kumpulan artikel ini. Karena banyak menulis Soen’an
juga terlibat banyak dalam kegiatan organisasi di luar kantornya. Karena banyak aktivitas
menulis itu lah, maka Soen”an banyak terlibat dalam kegiatan organisasi.

Keempat, jalan hidup Soen’an tak biasa dan penuh warna. Soen’an Hadi Poernomo adalah
anak seorang ayah yang menjadi korban dalam ”perang saudara” di Republik ini pada masa
1965-1966. Kala itu situasi sosial diwarnai dengan ”kemarahan” terhadap orang-orang yang
dianggap (beratribut) sebagai anggota Partai Komunis Indonesia (PKI). Ibunya garis ”hijau”
sedangnya bapaknya ”merah”, ayahnya ketua Lekra di daerahnya, Lamongan.

Dalam budaya politik lama seharusnya soen’an tak bisa jadi pejabat, bila di litsus ia akan gugur
karena kena hukum bapaknya ”merah’. Tapi soen’an tidak, ia berhasil menggapai jabatan di
kementerian Kelautan Perikanan.Meski atribut seperti itu masih melekat, namun tak membuat
Soen’an Hadi Poernomo terpengaruh. Soen’an Hadi Poernomo tetap tumbuh dengan karakter
dan jati diri sendiri.

Bahkan sejak kecil sudah tertanam sifat-sifat dan karakter nasionalisme, integritas, kedisiplinan,
dan ketekunan. Sejak kecil Soen’an Hadi Poernomo sudah dekat dengan kelompok ”hijau”
(Islam). Dia mengaji kitab suci al-Qur’an. Dalam berorganisasi Soen’an dekat dengan dengan
kalangan Nahdliyin. Semasa sekolah menengah, aktif sebagai Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama
(IPNU). Artinya, pertumbuhan dan perkembangan karakter Soen’an tidak terkait dengan
latar-belakang ayahandanya sebagai pimpinan Lekra.

Soen’an tetaplah Soen’an meski tetap mewarisi segala sifat dan karakter kedua orang
tuanya.Dalam konsteks inilah kehadiran buku ini terasa penting. Dari sini kita tahu bahwa masih
banyak pejabat negara yang mau hidup sebagaimana adanya, tanpa silau oleh kekayaan dan
gemerlapannya jabatan yang ia sandang. Dari sudut itu berbahagialah KKP punya pejabat
sederhana seperti Soen’an hadi Purnomo.
3 / 5Birokrat Unik, Apanya Yang Unik? - Cyber Sabili Ramah Tegas dan Diperhitungkan
Ditulis oleh Dwi Hardianto
Sabtu, 08 Januari 2011 14:27

Nukilan Penting Buku

Hidup itu akan kelihatan ruwet dan gelap bagi mereka yang menggunakan kacamata gelap dan
kotor. Tapi coba kenakan kacamata hidup yang jernih, terang dan optimis, maka kehidupan
akan kelihatan indah dan menarik. Hidup akan terasa damai dan bersahabat. Kesan inilah yang
muncul di benak saya setiap berjumpa Pak Soen’an Hadi Purnomo. Sikap hidupnya sederhana.

Hidup dijalaninya dengan damai, namun produktif, baik dalam pemikiran maupun tindakan. Dia
tipe orang yang senang belajar, senang berorganisasi, dan senang berbagi pengalaman hidup
pada lingkungan dekatnya (kata pengantar Komaruddin Hidayat).Pak Soen’an memang
seorang birokrat yang ”lain sendiri” dan memiliki karakter serta kepribadian. Pak Soen’an bukan
fotokopi dari siapa pun di Kementerian Kelautan dan Perikanan. Pak Soen’an bukan tipe
seorang birokrat tanpa karakter. Dia memiliki warna, memiliki karakter, bersahaja dan tidak
macam-macam.

Pak Soen’an memang birokrat unik.Pak Soen’an tidak bisa di-kotak-an. Pak Soen’an itu orang
yang multidimensional. Dia seorang birokrat tapi juga ”anak gaul” yang banyak temannya. Dia
bekerja secara baik dan diapresiasi oleh atasan dan rekan sejawatnya. Di bidangnya, Pak
Soen’an cukup berprestasi. Dia penulis yang baik, mulai dari puisi, cerpen sampai essay. Saya
sepintas pernah membaca karyanya (wawancara Sarwono  Kusumaatmadja 160).

Kutipan Buku

Pada pagi hari, Soen’an tetap bersekolah seperti biasa. Kebetulan pada waktu itu Soen’an
mengikuti pelajaran senam pagi. Sedang mengikuti senam pagi, Soen’an dilempar batu kerikil
kecil oleh seorang kakak kelas bernama Yudi. Maksudnya, sang kakak kelas Yudi ingin
berbicara sesuatu kepada Soen’an. Lemparan itu artinya panggilan. Soen’an pun menghampiri
Yudi.

Kemudian Yudi memberitahu bahwa ayahanda Soen’an telah meninggal dunia semalam. Yudi
juga memberitahu lokasi tempat di mana ayahanda Soen’an dimakamkan, yaitu di dekat sawah
selatan Lamongan. Soen’an tidak bereaksi apa-apa. (halaman 14)Kakak kelasnya bercerita
4 / 5Birokrat Unik, Apanya Yang Unik? - Cyber Sabili Ramah Tegas dan Diperhitungkan
Ditulis oleh Dwi Hardianto
Sabtu, 08 Januari 2011 14:27
bahwa saat mau meninggal dunia, ayahanda Soen’an minta diazankan. Setelah mendengar
suara azan, kemudian ayahanda Soen’an meninggal dunia.

Soen’an sendiri tidak mengetahui bagaimana ayahnya dibunuh. Apakah dalam keadaan berdiri,
tidur, atau berlari lalu ditembak, Soen’an tidak mengetahuinya.Di mana lokasi terbunuhnya
ayahandanya, Soen’an pun tidak tahu. Dalam kondisi seperti itu, apa yang ada di benak
Soen’an berkecamuk. (14)Sepulang sekolah, tiba di rumah Soen’an tidak memberitahu kepada
sang ibunda. Dia bersikap biasa saja. Soen’an diam saja. Tak berapa lama, adik ibu
(paklik/paman) datang ke rumah. Sebenarnya paman Soen’an ini, Paklik Fajar, juga terlibat
sebagai simpatisan PKI.

Namun, dia hanyalah sebagai simpatisan biasa, tidak terdaftar sebagai anggota partai komunis.
Meski demikian, karena dianggap sebagai simpatisan partai komunis, Paklik Fajar
diberhentikan dari tempat kerjanya di toko yang memperdagangkan sepeda dan senar.Kepada
ibunda Soen’an, Paklik Fajar memberitahu bahwa Nawan Sosro telah meninggal dunia
semalam. Soen’an pun dipanggil dan diberitahu bahwa ayahandanya telah tiada. Ibunda dan
Paklik Fajar terlihat menangis.

Soen’an pun tak bisa menahan kesedihan. Dia ikut menangis.Soen’an sebenarnya sudah
mengetahui kabar ayahandanya telah meninggal dunia di sekolah dari kakak kelasnya Yudi.
Soen’an pun memberitahu bahwa tadi pagi sudah mendengar kabar itu. Ibundanya mengatakan
mengapa Soen’an tidak memberi tahu tapi hanya diam saja. Soen’an tak menjawab.

Mereka masih larut dalam kesedihan mendengar berita Nawan Sosro sudah meninggal dunia.
(halaman 14)Soen’an berani mendatangi lokasi yang diperkirakan tempat ayahandanya
meninggal dunia dibunuh pada tahun 1965-an. Seperti yang diceritakan kakak kelas Soen’an,
Yudi. Soen’an menghubungi Yudi untuk meminta diantarkan ke tempat yang diperkirakan
sebagai lokasi pembunuhan. Tempat itu memang terlihat seperti sebuah kuburan massal.
Hanya batu yang menandai adanya kuburan di lokasi itu. (halaman 15). (Dwi H)

Kabarmuslim.com Portal Berita Umat Muslim

    Kabarmuslim.com Portal Berita Umat Muslim
  • kabarmuslim.comartinya soen
  • kabarmuslim.comadik hadi poernomo
  • kabarmuslim.comsoen an hadi purnomo
  • kabarmuslim.commajalah soen
  • kabarmuslim.comkolom yudi latif
  • kabarmuslim.comKH soenan hadi
  • kabarmuslim.comkarakter seorang birokrat
  • kabarmuslim.comistri sarwono kusumaatmaja islam
  • kabarmuslim.comdwi hardianto
  • kabarmuslim.combuku tentang birokrat

Tinggalkan Komentar